Senin, 09 Mei 2016

Agama sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi

Agama sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi
 
Benny Susetyo, Pr

JUDUL tulisan ini saya kutip dari statement Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalimat tersebut, hemat saya, memiliki bobot, kualifikasi, konsekuensi dan interpretasi yang sangat jauh, dalam. Tidak sekadar kalimat yang meluncur begitu saja, tapi memiliki makna yang signifikan untuk merefleksikan kembali hakikat kehidupan beragama kita, yang semakin lama kita rasakan makin menurun kualitasnya. Dengan alasan, perjuangan politik, sosial, ekonomi, sudah mempersyaratkan kematian dan mengabsahkan pembunuhan massal apabila sudah berdogma agama.

Kita mulai dari tragedi pengeboman WTC dan pembalasan AS menghancurkan Afghanistan, perburuan Osama bin Laden, kemudian Tragedi Bali dan perburuan para pelakunya, wajib lapor WNI di AS, sampai pada peristiwa terakhir di Asia: konflik identitas antara Kamboja dan Thailand. Hampir semua bermuara, atau dimuarakan, kepada agama yang dituduh sebagai penyebab alias biang keladi berbagai peristiwa rusuh tersebut. Bagi perdamaian umat manusia, semua itu adalah masalah.

Secara definitif kita kenali bahwa masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Masalah sosial keagamaan terjadi karena ada yang tidak sesuai antara harapan yang telah ditorehkan dalam iman agama dengan kenyataan bagaimana agama tersebut berfungsi dalam masyarakat. Sangat jelas bahwa masalah tersebut terjadi akibat interpretasi monodimensional terhadap agama sebuah teks. Agama bukannya menjadi tuntunan untuk berperilaku baik dan menghormati manusia lain yang berbeda keimanan, malah dijadikan tuntunan untuk memaksa orang lain mengikuti kemauannya.

Jadi benarlah ucap Gus Dur itu, agama kerap dijadikan sebagai aspirasi, bukan inspirasi. Seperti halnya partai politik, aspirasi dalam agama kerap berbentuk suatu simbol-simbol, bendera-bendera, atau logo-logo. Itulah mesin penjebak manusia. Logo-logo itu dianggap sebagai kebenaran, bukan makna di balik logo itu. Logo sebagai sesuatu yang penting karena menyangkut identitas untuk membedakan sikap yang satu dan lainnya, memang benar. Akan tetapi logo menjadi tidak penting sama sekali bahkan bersifat merusak (destroy) apabila ia diletakkan sebagai kebenaran itu sendiri. Jadi bukan arti logo yang diutamakan, tapi bentuk fisik logo itu sendiri.


Karakter Keimanan
Sementara bila kita tengok perilaku keagamaan kita beberapa waktu terakhir dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia, semangat penyejukan dan perdamaian yang dibawa agama tampak kering. Hampir pasti bahwa semangat tersebut meleleh karena perilaku sosial politik selama 40-an tahun semenjak merdeka telah meracuni agama itu sendiri. Agama dikerangkeng di dalam aturan-aturan yang monolitik, monoton, dan tentu saja berdampak tidak sehat.

Aneh, perilaku orang beragama justru buas terhadap sesamanya. Norma kesopanan telah pudar dalam sanubari bangsa ini. Seolah-olah kita telah kehilangan jati diri sebagai orang beragama, sebagai bangsa beragama, sebagai makhluk beriman. Karakter keimanan sebagai suatu substansi yang harus diraih, gagal kita bangun. Keimanan bukan untuk menyayangi makhluk lainnya, tetapi justru untuk membunuh, dengan segala macam cara.

Adakah yang salah dalam cara kita beragama, berbangsa, berperikehidupan? Mengapa bangsa kita hidup dalam ketidakberadaban karena membiarkan kekerasan demi kekerasan terus berlangsung tanpa ada usaha yang kuat untuk menghentikan praktik kekerasan itu sendiri? Sebagai bangsa yang beragama, bukan atheis, mengapa orientasi kehidupan kita hanya mampu mencetak manusia yang kerdil, haus kekuasaan, harta dan kemuliaan belaka?

Sebetulnya kita sedih menyimpulkan statement ini. Tapi kita tidak bisa mengelak bahwa sampai sejauh ini dalam kehidupan kebangsaan kita, kita sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan keberagamaan kita telah gagal membangun sebuah karakter keimanan. Seolah-olah kesucian hanya dilihat di sekitar tempat ibadat, di luar itu orang boleh melakukan praktik yang berlawanan dengan keimanan.

Kita lihat dalam praktiknya, keberagamaan kita menampilkan wajah kontras antara kesucian individual dan kesalehan sosial. Kesucian individual ini tak kunjung berubah menjadi kesalehan sosial.
Realitas agama hanya terjebak pada dimensi kesalehan pribadi yang berorientasi pada kesucian perorangan. Ukurannya hanya sekadar persembahan belaka, tetapi tidak mampu memperbarui perilaku sosial. Hal ini terjadi karena agama tidak mampu keluar dari persoalan identitas (logo) seperti di atas. Pemeluk agama masih terjebak pada persoalan kuantitas keimanan, bukan pada kualitas keimanannya. Agama hanya dihayati sekadar ritual belaka, tetapi dirinya terasing terhadap realitas kehidupan kemasyarakatan.


Agama jauh dari realitas kehidupan kemasyarakatan. Dia cenderung memikirkan dirinya sendiri dalam lingkup dogma, aturan dan legalitas. Dia tak mampu melihat realitas masyarakat yang mengalami penindasan, pemerkosaan hak, dan penderitaan kaum tertindas yang termarginalisasikan oleh sistem pembangunan.

Agama gagal mempraktikkan iman yang memihak nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan. Mengapa agama bisa terasing dari realitas? Sebab hampir 40-an tahun agama dijadikan subordinasi politik Orba. Agama hanya dimengerti sebagai ritus belaka dan berorientasi pada dogma an sich. Dengan demikian pemeluknya pun sekadar beragama formal dan fanatis. Ini membuat pemeluk agama menjadi picik dan mudah dijadikan potensi konflik.

Selama ini tanpa sadar cara beragama kita masih sekadar menjalankan kewajiban persembahan saja, bukan pada penghargaan hak-hak manusia lainnya. Penghayatan yang ritualistik ini melahirkan nilai keimanan yang kurang
terwujud.

Karena itulah perubahan orientasi keagamaan seharusnya lebih difokuskan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Dialog kemanusiaan ini akan membantu umat beragama memiliki kesadaran religiusitas yang berkualitas. Kualitas religiusitas inilah yang membawa nilai-nilai kemanusiaan semakin adil dan beradab. Ukuran beradab adalah bila terwujud solidaritas sosial yang universal, tanpa pandang bulu agama, etnis dan suku. Ini terwujud bila umat beragama tidak terkurung dalam polemik yang hanya mempersoalkan perbedaan ajaran saja, melainkan, di sisi lain, umat beragama harus berani meninggalkan egoisme dengan cara membangun komitmen kemanusiaan.

Komitmen ini akan terwujud bila umat beragama jujur terhadap realitas dan jujur kepada Tuhan. Jujur terhadap realitas adalah bahwa umat beragama memiliki bela rasa terhadap penderitaan umat manusia yang beda keyakinan.
Dengan itu, maka umat beragama dipanggil untuk bela rasa terhadap korban, dalam bahasa yang sama yakni kemanusiaan. Lewat wujud bela rasa itulah umat beragama menjalankan agama yang berbelaskasih. Lewat tindakan yang tulus itulah dia sebenarnya jujur terhadap Tuhan.

Tuhan bukan butuh persembahan tetapi umat manusia yang bertindak adil bagi sesama. Tuhan akan muak dengan persembahan kita bila tangan kita penuh dengan darah, dan mulut kita penuh dengan pembualan dan dusta. Realitas itulah ditampilkan dalam wajah keagamaan saat ini akibatnya keagamaan yang seharusnya membebaskan manusia dari situasi keterasingan dalam realitas dirinya sendiri terasing.

Penulis adalah budayawan dan rohaniwan, tinggal di Malang.
Sumber SUARA PEMBARUAN DAILY
 

 © Hak Cipta 2002, GusDur.Net 
 Kontak: redaksi@gusdur.net 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar