Senin, 09 Mei 2016

A Wahid Kadungga, Operator Internasional JI

A Wahid Kadungga, Operator Internasional JI
 
Oleh: Bondan Winarno

SEKALIPUN beberapa media Indonesia pernah menyebut keterlibatan Abdul Wahid Kadungga (62) dalam jaringan Jemaah Islamiyah (JI), laki-laki kelahiran Sulawesi Selatan ini hingga kini masih raib. Keterlibatannya dalam JI juga langka dikaitkan dengan pengeboman yang terjadi di Bali dan Makassar. Padahal, mungkin saja Kadungga adalah "telur emas" yang bisa menguak jejaring misterius ini.

Kadungga dikenal sebagai menantu Kahar Muzakkar, pemimpin Darul Islam di masa lalu. Karena kedekatannya dengan Kahar Muzakkar, ia meninggalkan Indonesia pada akhir 1960-an, dan belajar di Koln, Jerman. Ia ikut mendirikan PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) pada 1971 dan menjadi ketua umumnya yang pertama. Ketika itu ia berusaha merekrut Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi sekretaris umum PPME. Tetapi, Abdurrahman Wahid menolak, karena ia tinggal di Irak yang bukan bagian Eropa.

Kadungga memang semula cukup akrab dengan Gus Dur. Selama dua tahun mereka pernah tinggal sekamar di Jerman pada awal 1970-an itu. Hingga kini Kadungga masih sering memakai baju batik hadiah Gus Dur. Namun, keduanya telah "pecah kongsi". Perpisahan itu, menurut Majalah Suara Hidayatullah terjadi pada pertengahan 1970-an di Damaskus, Syria. Gus Dur, menurut Kadungga, "Hanya membuat sahabat Muslim bingung." Kadungga sendiri adalah seorang yang tidak mengakui hukum "buatan manusia". Dalam soal syariat (hukum Islam), ia termasuk garis keras.

Kadungga, tampaknya, telah membuat dirinya menjadi seorang lone fighter. Ini perlu dikemukakan, agar tidak terjadi tuduhan "guilty by association" terhadap PPME yang ikut didirikan Kadungga. PPME dikenal sebagai organisasi yang tidak radikal, bahkan juga tidak meng-Indonesia karena sifatnya yang internasional. Seorang wartawan Radio Netherlands bahkan pernah mengimbau agar pers tidak pula menghakimi keluarga Kadungga yang mungkin sama sekali tidak terlibat dalam perjuangan Kadungga sebagai "lone fighter".

Visi Kadungga untuk menegakkan kembali Kekhalifahan Islam Dunia diduga merupakan pemicu kontaknya dengan Abdullah Sungkar (almarhum, pendiri JI), dan Abu Bakar Ba'asyir. Pada 1985 Kadungga datang ke Malaysia. Diduga, ialah yang mengatur tempat tinggal bagi Sungkar dan Ba'asyir di sana. Ia memang punya hubungan dekat dengan kelompok militan PAS (Partai Islam se-Malaysia) di Malaysia.

Pada 2000, Kadungga menggandeng Wakil Presiden PAS Tuan Guru Abdul Hadi bin Haji Awang, menghadiri seminar Penegakan Syariat Islam di Makassar. Besar kemungkinan, pemikiran Kadungga pulalah yang ikut membesarkan JI di Malaysia dengan merekrut pemuda-pemuda dari Indonesia untuk memperoleh pekerjaan di Malaysia, dan menyetor 20 persen penghasilannya untuk JI.

Visi Kadungga ternyata memperoleh lahan subur dalam pemikiran Ba'asyir dan Sungkar. Kadungga segera menghubungkan Ba'asyir dan Sungkar dengan tokoh-tokoh Gama Islami (Al-Gama'a al-Islamiyya) di Mesir. Gama Islami adalah sempalan garis keras dari Ikhwan al-Muslimin (Persaudaraan Muslim Mesir), yang juga diketahui bermitra dengan garis keras Al-Jihad al-Islami.

Pimpinan Gama Islami, Sheik Omar Abd al-Rahman, ditangkap dan dihukum karena keterlibatannya dalam pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 1971. Ia dibebaskan pada 1984 dan bermukim di Amerika Serikat. Pada 1993 ia ditangkap karena keterlibatannya dalam pengeboman World Trade Center. Tokoh Gama Islami lainnya adalah Usama Rushdi yang bertindak sebagai ahli propaganda GI. Ia diduga kini "bersembunyi" di Afghanistan, dan merupakan orang dekat Osama bin Laden.

Radikalisasi JI
Dokumen yang diumumkan ICG (International Crisis Group) belum lama ini mengingatkan kita kembali pada peran Kadungga. Kontak internasionalnya menghasilkan dana yang cukup untuk mengirim pemuda-pemuda Indonesia menjalani pelatihan militer di Afghanistan. Tak heran bila dokumen ICG menyebut Kadungga sebagai "Ba'asyir's main international link".

Dengan menjadi penghubung internasional bagi JI, yang juga berarti sebagai penyedia dana yang berasal dari sumber-sumber internasional, Kadungga diduga sebagai pihak yang sangat berperan dalam "menyetir" JI ke arah radikalisme.
Kadungga dalam wawancara dengan Majalah Suara Hidayatullah yang terbit Oktober 2000, mengatakan, ia mengenal baik Osama bin Laden.

Bahkan sebelum terjadi Tragedi 11 September, Kadungga menurut Hidayatullah adalah orang yang amat sulit dihubungi. Setelah Tragedi 11 September, Kadungga bagaikan lenyap ditelan bumi. Keluarganya di Negeri Belanda, dikabarkan juga tidak mengetahui keberadaannya. Hingga Agustus 2002 ia diduga masih berada di Indonesia.

Selain visi untuk menegakkan Kekhalifahan Islam Dunia, Kadungga juga diketahui berambisi mendirikan sebuah parpol Islam di Indonesia. Ia pernah menghubungi Presiden BJ Habibie dan Hamzah Haz (sebelum menjadi Wapres!) untuk membicarakan pokok itu. Mudah dipahami, ia tidak pernah membicarakan ambisinya itu dengan Gus Dur.

Surya Alinegara, teman baik Kadungga di Den Haag, mengatakan kepada Radio Netherlands ia tidak yakin Kadungga terlibat dalam jaringan teroris internasional. "Ia tidak punya konsep berorganisasi, tidak punya kader, bahkan tidak bisa bicara bahasa Arab. Bagaimana mungkin ia bisa menjadi seorang aktivis?" katanya. Kabut misteri sekitar Kadungga memang perlu segera dikuak. Mungkin saja hal itu akan mengungkap 'missing link" antara Ba'asyir dengan dugaan keterlibatannya. Atau, setidaknya, hal itu justru akan mencuci nama Kadungga dan Ba'asyir sendiri.

(Sumber: Suara Pembaruan, Senin 16/12 2002)
 

 © Hak Cipta 2002, GusDur.Net 
 Kontak: redaksi@gusdur.net 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar