Senin, 09 Mei 2016

Agama dan Militer

Agama dan Militer
 
Oleh: Josef P. Widyatmadja

JANGAN Anda marah kalau saya katakan bahwa agama dan militer merupakan dua sosok yang serupa tapi tidak sama. Dalam agama besar dunia, dikenal konsep pemimpin agama yang mengatasnamakan Allah Yang Maha-Kuasa dan menuntut ketaatan dari para pengikutnya. Sedangkan dalam militer, dikenal panglima tertinggi yang harus ditaati oleh setiap prajurit. Sumpah prajurit dan "sumpah agama" dijalankan pada anggota masing-masing.

Ketaatan mutlak diperlukan bagi peradjurit dan pengikut suatu agama. Semua perintah dan ajaran atasannya harus dijalankan. Disiplin agama dan militer bisa diberlakukan untuk para anggota yang dianggap bidat. Fatwa agama untuk menghukum pengikut agama sering dilakukan oleh dewan agama terhadap orang yang dianggap melawan kebenaran agama, seperti yang dialami oleh Galileo, Copernicus, dan Salman Rushdi. Rezim yang militeristik dapat pula melakukan hal yang sama terhadap mereka yang dianggap melawan keabsolutan kekuasaan militer.

Pihak militer akan memberangus orang atau kelompok yang dianggap pembangkang terhadap kekuasaan yang absolut. Para pengikut agama dan prajurit sering kali tidak diberi kesempatan berpikir, sehingga mereka tidak lagi terlatih untuk berpikir bebas dan berbeda dengan penguasa. Dalam agama, Allah punya pembantu para malaekat, dalam militer dikenal pula dengan kepala staf dan panglima daerah yang menjadi pembantu dari panglima tertinggi.

Agama dan militer sama-sama mempunyai power atau kekuasaan. Keduanya memiliki instrumen untuk menggunakan kekuassan masing-masing untuk menghukum anggotanya. Dan penggunaan kekuasaan yang absolut itu bisa menghasilkan kekuatan yang destruktif maupun positif. Di banyak negara, kebangkitan kelompok ekstrem agama membuat keprihatinan para penguasa.
Sebaliknya, kebangkitan militerisme juga membuat keprihatinan kelompok keagamaan dan kemanusiaan. Dalam praktik, ada kecenderungan kaum penguasa yang didukung militer mengagamakan militer dengan memakai simbol dan wacana agama (supranatural) dalam kehidupan negara. Peringatan "hari kesaktian Pancasila" untuk mengenang tragedi berdarah dan pengkhianatan atas Pancasila dipakai sebagai wacana dan upacara sakral untuk membenarkan tindakan dari rezim yang berkuasa.

Legitimasi Agama
Dalam peresmian kapal induk "Ronald Reagan" milik Amerika serikat dipakai motto "Peace through strength". Motto itu mengganti pengakuan bahwa damai bersumber pada Allah Yang Maha-Kasih. Bush memakai "crusade" untuk membenarkan serangan atas Irak sedangkan Saddam Hussein dan Bin Laden menyerukan "jihad" untuk melawan pendudukan Amerika Serikat.

Seringkali legitimasi agama dan doa dilakukan sebelum membunuh dan menghancurkan pihak lain. Beberapa konflik politik dan militer sering diagamakan. Allah sering diminta restu dan berkat-Nya sebelum suatu serangan dari satu negara kepada negara lain dilakukan.

Sebaliknya, persoalan agama sering mengundang campur tangan militer. Dalam era globalisasi beberapa kelompok agama telah melakukan tindakan militerisasi agama demi memenangkan pengaruh dan persaingan. Globalisasi bukan sekadar persaingan ekonomi seperti dipikirkan oleh banyak orang, tapi juga bisa membawa dampak persaingan agama dan militer.

Saat ini wajah agama tidak lagi menampakkan wajah yang penuh cinta kasih tapi telah berganti dengan wajah angker dan kejam. Ini tampak ketika para pemimpin agama yang mengatasnamakan "Allah" memanggul senjata, membentuk laskar yang mirip laskar militer, dan meneriakkan yel yel memuji Allah sebelum melakukan pembunuhan dan serangan terhadap pihak lain. Agama sering memakai militer untuk memperluas pengaruhnya; sebaliknya, kaum militer juga aktif memakai sarana agama untuk memperkokoh kekuasaannya.

Kelompok yang ingin bebas dari kediktatoran agama maupun militer sering menjadi korban dari nilai yang tidak demokratis dalam agama dan militer. Institusi agama dan militer bukan merupakan institusi yang demokratis. Tatanan agama dan militer akan menjadi amburadul kalau Allah bisa digugat dan panglima tinggi bisa dibantah atas nama demokrasi.

Agama dan militer sama-sama mengaku mempunyai panggilan untuk melindungi dan menyejahterakan masyarakat. Agama menjanjikan kehidupan surgawi, sedangkan militer menjanjikan stabilitas keamanan. Keduanya seringkali menanamkan sikap fanatisme di kalangan anggotanya: right or wrong is my religion/legion. Apabila fanatisme dijalankan dengan membabi buta, maka akibatnya akan menimbulkan malapetaka bagi orang yang mendambakan kebebasan.

Dalam era globalisasi, agama dan militer perlu lebih terbuka terhadap kritik-kritik dari pihak lain. Bukan sekadar harus hidup secara toleran terhadap pihak lain, tetapi juga harus bisa hidup dalam kedamaian dan keadilan dengan pihak lain.
Simpang Jalan

Menyongsong Pemilu 2004, agama dan militer di Indonesia ada di simpang jalan. Akankah agama dimiliterkan oleh para pengikutnya dalam rangka memenangkan kepentingannya? Sebaliknya, apakah militer akan mengagamakan institusinya sehingga militer bisa dianggap juru selamat untuk wewujudkan persatuan dan kemakmuran?

Penulis mengutip kata-kata almarhum Sudjatmoko bahwa ABRI terjun ke politik tidak atas kemauan sendiri tapi oleh konteks sejarah. Kalau almarhum benar, maka dalam era keterbukaan, TNI perlu memiliki panggilan sejarah untuk membebaskan dirinya dari keterlibatan politik yang tidak diinginkannya pada sejarah masa lalu.

Sebaliknya, tugas pemimpin agama dan politik dalam pemilu mendatang perlu untuk menghindari memperalat militer demi memenangkan kepentingan golongannya. Jika TB Simatupang menyitir bahwa peran ABRI sebagai dinamisator dan stabilitator dalam pembangunan, maka dalam menyongsong "era keterbukaan" pertanyaannya adalah mampukah TNI berperan untuk menjadi penegak demokrasi Ibu Pertiwi?

Makin kecil peranan TNI dalam kehidupan dan jabatan politik akan makin menunjukkan keberhasilan TNI dalam menjadi dinamisator dan penegak demokrasi. Itu yang seharusnya menjadi tekad TNI dalam memperingati hari jadi ke-58, dan bukan sebaliknya. Dirgahayu TNI!

Penulis adalah pemerhati etika dan masalah internasional.


 © Hak Cipta 2002, GusDur.Net 
 Kontak: redaksi@gusdur.net 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar