Ada Apa dengan Cyber Sastra? — Sudaryono
Dikemas 04/07/2003 oleh Editor
"Secara semiotik, sebuah grafiti sastra yang realisasinya dapat berupa pahatan, lipatan, atau curahan perasaan harus diberi makna. Dari berbagai segi pemaknaan yang dapat dibuahkan dari membaca Graffiti Imaji ialah bahwa setiap penulisnya berusaha eksis dengan kejujurannya, keorisinilannya, dan keberaniannya," tulis doktor dan dosen FKIP Universitas Jambi, Sudaryono.
Ada Apa dengan Cyber Sastra?
Lajunya perkembangan IPTEKS termasuk informasi dan komunikasi massa, agaknya berimbas pada aktivitas ber-“sastra” (“sastra” tanda kutip). Jauh sebelumnya, pada era Pujangga Baru kita telah mengenal sastra majalah. Setelah itu, berkembang sastra koran. Pada periode selanjutnya tumbuh sastra audio-visual, hingga yang paling mutakhir lahir “sastra” dari dunia cybernet. Untuk yang terakhir ini, Yayasan Multimedia Sastra dengan Cybersastra-nya bekerja sama dengan Penerbit Damar Warga meluncurkan buku kumpulan cerpen pendek bertajuk Graffiti Imaji, yang dilansir Maret 2002. Buku yang memuat 83 karya dari berbagai penulis beraneka usia, jenis kelamin, dan latar bekalang ini konon dieditori oleh Sapardi Djoko Damono, Yanusa Nugroho, dan Anna Siti Herdiyati.
Dalam hubungannya dengan media ekspresi, agaknya sastrawan selalu tergugah motivasi dan kreativitasnya sejalan dengan perkembangan media penayangannya. Dampak dari itu semua ialah semakin beragamnya genre sastra. Dulu, dengan mudah kita membagi kapling genre sastra menjadi tiga, yakni prosa (cerpen, novelet, novel), puisi, dan drama. Kini, setelah para sastrawan merambah media cibernet lengkap dengan multimedianya, genre itu menjadi samar-samar, sebab sastrawan dalam praktiknya bisa berperan ganda: sastrawan, penyair, atau bahkan sekaligus menulis lakon lewat berbagai kreativitas. Sumirnya genre sastra seperti itu, untuk saat ini, amat mungkin terjadi sebab media cibernet dengan leluasa bisa “dimainkan” untuk itu. Dengan media ini, orang bisa membuat grafiti (menulis atau menggambar) tentang segala hal dari masalah cinta, derita, protes, spiritual, hingga ritual.
Hal yang menarik dicatat dalam kaitannya dengan Graffiti Imaji ini ialah longgarnya kriteria pemilihan materi cerita. Masalah ini menjadi isu penting sebab seorang pakar sekaliber Sapardi Djoko Damono dkk. (dalam Kata Pengantar buku ini dan sekaligus sebagai editor) berusaha menghindar dari persoalan hakikat “panjang-pendeknya” dan unsur cerpen pendek seperti latar, alur, dan tokoh cerita. Kita bertanya, apakah yang dijadikan dasar pertimbangan editor dalam memilih dan memilah cerita yang ada dalam buku ini? Sebuah ukuran, kriteria, parameter, atau apa pun istilahnya menjadi penting diperhatikan.
Sebuah kriteria yang ketat untuk penerbitan sastra merupakan hal yang urgen, lebih-lebih jika dikaitkan dengan harapan Medy Loekito selaku ketua Yayasan Multimedia Sastra: "segala cerita kehidupan yang disatukan dalam buku ini, dapat memberikan sentuhan kebijaksanaan bagi semua pembaca, serta memiliki peran positif bagi perkembangan sastra dan dunia pendidikan Indonesia”. Konsumen pembaca sastra, ketika membeli dan membaca sastra selalu berharap agar memperoleh kearifan dan kekayaan rohani sebagai “sentuhan kebijaksanaan”.
Hal itu dilatarbelakangi oleh posisi kunci sastra dalam dimensi kemanusiaan. Manusia akan lebih manusiawi apabila tersentuh oleh estetika sastra. Dalam kaitan ini dapat dinyatakan bahwa sastra merupakan “jalan keempat” mencapai the ultimate reality setelah agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Sastra tidak lain merupakan manifestasi dari kepedulian sastrawan terhadap fenomena yang terjadi di sekelilingnya. Sastrawan melalui karya kreatifnya tidak semata-mata mengekspresikan fenomena yang bersifat wadak dan permukaan, sebab karya sastra sejatinya lebih mengekspresikan yang hakiki daripada yang bersifat materi.
Hal lain yang layak dicatat ialah bahwa karya yang dimuat buku Graffiti Imaji ini merupakan hasil guratan penulis yang berasal dari berbagai status, umur, jenis kelamin, dan minat yang berbeda-beda. Apakah arti dan dampak dari itu semua? Hal itu mengindikasikan bahwa takaran pengalaman penulis, wawasan estetik, cita rasa, visi dan misinya tentulah beragam. Semua itu membawa dampak bahwa “kata-kata yang mereka mainkan” membuahkan karya yang juga beragam ditinjau dari berbagai perspektif, misalnya dari perspektif literer dan non-literer.
Dari perspektif nilai literer, ada 10 cerita yang merebut perhatian pembaca karena sajiannya yang menarik, yakni (1) “Staatsgevaarlijk” (Agus Safari), (2) “Sketsa Rumah-rumah di Pinggir Jalan Tol” (Kurnia JR), (3) “Wuperainma Mencari Telaga” (Debra H. Yatim), (4) “Lebaran Ini Lebaran Ketiga” (Kuswinarto), (5) “Kupu-kupu di Batu Nisan’ (M. Arman AZ), (6) “Seorang Gadis Berdoa di Pinggir Kali” (Mohd. Thabrani MR), (7) “Keranda” (Muhary Wahyu Nurba), (8) “Hujan Sore Hari” (Nanang Suryadi), (9) “Kabut” (S.Yoga), dan (10) “Kan Kucari Tulang Rusukku” (Zulkifli). Cerita selebihnya yang mengungkapkan berbagai persoalan, baik persoalan serius atau sekadar iseng secara teknis sastrawi kiranya belum memenuhi apa yang biasa disebut “bahasa yang berdarah-darah”. Namun, terlepas dari nilai literer atau non-literer, kehadiran cerita dalam buku ini secara semiotik telah menyediakan penandaan, yakni sebagai grafiti.
Secara semiotik, sebuah grafiti sastra yang realisasinya dapat berupa pahatan, lipatan, atau curahan perasaan harus diberi makna. Dari berbagai segi pemaknaan yang dapat dibuahkan dari membaca Graffiti Imaji ialah bahwa setiap penulisnya berusaha eksis dengan kejujurannya, keorisinilannya, dan keberaniannya. Para penulis cerita, lewat multimedia telah berusaha menyebarluaskan benda budaya yang dibentuk dari perihnya perasaan, luka, trauma, atau sekadar keinginan ber-intermezo melalui sketsa, anekdot, karikatur, dan sebagainya. Sebagai media, cibernet dengan e-mail dan fasilitas lainnya sebenarnya memberikan ruang gerak dan keleluasaan bagi kreator untuk mengekspresikan visi dan misinya masing-masing. Hal yang urgen dipahami oleh para penggiat dunia maya ini ialah sebentuk penyadaran bahwa apa pun media ekspresinya, sebuah karya sastra mensyaratkan keseriusan dalam penggarapan, pengolahan, dan penataan kata-kata.
Sebuah “benda budaya” sebagaimana dinyatakan oleh Sapardi Djoko Damono dkk. itu pada gilirannya akan dapat memberikan “sentuhan kebijaksanaan”, memiliki peran positif bagi perkembangan sastra, dan dunia pendidikan Indonesia apabila telah melewati proses panjang. Artinya, para kreator yang karyanya dimuat dalam sebuah buku kiranya tidak berhenti menikmati kepuasan karena telah diterbitkan. Namun, lebih jauh lagi kiranya para kreator tidak berhenti dari upaya mencari, mencari, dan mencari upaya pengekspresian gagasan yang lebih tepat, lebih akurat, dan lebih bermartabat. Yakinlah, bahwa sastrawan atau penulis yang telah “menjadi” pada hakikatnya melalui serangkaian proses panjang yang “berdarah-darah”!
---------------------
* Sudaryono adalah penyair, doktor, dan dosen FKIP Universitas Jambi. Juga punya nama samaran: Dimas Arika Miharja.
Isi komentar tanggung jawab pengirim. CYBERSASTRA.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar.
[Kembali ke Atas]
Hak Cipta © 2000-2002 | Dikelola oleh Yayasan Multimedia Sastra
Perancang Kulit dan Perwajahan: PINUSWEB
[Site Engine by PHP-Nuke]
Ada Apa dengan Cyber Sastra?
Lajunya perkembangan IPTEKS termasuk informasi dan komunikasi massa, agaknya berimbas pada aktivitas ber-“sastra” (“sastra” tanda kutip). Jauh sebelumnya, pada era Pujangga Baru kita telah mengenal sastra majalah. Setelah itu, berkembang sastra koran. Pada periode selanjutnya tumbuh sastra audio-visual, hingga yang paling mutakhir lahir “sastra” dari dunia cybernet. Untuk yang terakhir ini, Yayasan Multimedia Sastra dengan Cybersastra-nya bekerja sama dengan Penerbit Damar Warga meluncurkan buku kumpulan cerpen pendek bertajuk Graffiti Imaji, yang dilansir Maret 2002. Buku yang memuat 83 karya dari berbagai penulis beraneka usia, jenis kelamin, dan latar bekalang ini konon dieditori oleh Sapardi Djoko Damono, Yanusa Nugroho, dan Anna Siti Herdiyati.
Dalam hubungannya dengan media ekspresi, agaknya sastrawan selalu tergugah motivasi dan kreativitasnya sejalan dengan perkembangan media penayangannya. Dampak dari itu semua ialah semakin beragamnya genre sastra. Dulu, dengan mudah kita membagi kapling genre sastra menjadi tiga, yakni prosa (cerpen, novelet, novel), puisi, dan drama. Kini, setelah para sastrawan merambah media cibernet lengkap dengan multimedianya, genre itu menjadi samar-samar, sebab sastrawan dalam praktiknya bisa berperan ganda: sastrawan, penyair, atau bahkan sekaligus menulis lakon lewat berbagai kreativitas. Sumirnya genre sastra seperti itu, untuk saat ini, amat mungkin terjadi sebab media cibernet dengan leluasa bisa “dimainkan” untuk itu. Dengan media ini, orang bisa membuat grafiti (menulis atau menggambar) tentang segala hal dari masalah cinta, derita, protes, spiritual, hingga ritual.
Hal yang menarik dicatat dalam kaitannya dengan Graffiti Imaji ini ialah longgarnya kriteria pemilihan materi cerita. Masalah ini menjadi isu penting sebab seorang pakar sekaliber Sapardi Djoko Damono dkk. (dalam Kata Pengantar buku ini dan sekaligus sebagai editor) berusaha menghindar dari persoalan hakikat “panjang-pendeknya” dan unsur cerpen pendek seperti latar, alur, dan tokoh cerita. Kita bertanya, apakah yang dijadikan dasar pertimbangan editor dalam memilih dan memilah cerita yang ada dalam buku ini? Sebuah ukuran, kriteria, parameter, atau apa pun istilahnya menjadi penting diperhatikan.
Sebuah kriteria yang ketat untuk penerbitan sastra merupakan hal yang urgen, lebih-lebih jika dikaitkan dengan harapan Medy Loekito selaku ketua Yayasan Multimedia Sastra: "segala cerita kehidupan yang disatukan dalam buku ini, dapat memberikan sentuhan kebijaksanaan bagi semua pembaca, serta memiliki peran positif bagi perkembangan sastra dan dunia pendidikan Indonesia”. Konsumen pembaca sastra, ketika membeli dan membaca sastra selalu berharap agar memperoleh kearifan dan kekayaan rohani sebagai “sentuhan kebijaksanaan”.
Hal itu dilatarbelakangi oleh posisi kunci sastra dalam dimensi kemanusiaan. Manusia akan lebih manusiawi apabila tersentuh oleh estetika sastra. Dalam kaitan ini dapat dinyatakan bahwa sastra merupakan “jalan keempat” mencapai the ultimate reality setelah agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Sastra tidak lain merupakan manifestasi dari kepedulian sastrawan terhadap fenomena yang terjadi di sekelilingnya. Sastrawan melalui karya kreatifnya tidak semata-mata mengekspresikan fenomena yang bersifat wadak dan permukaan, sebab karya sastra sejatinya lebih mengekspresikan yang hakiki daripada yang bersifat materi.
Hal lain yang layak dicatat ialah bahwa karya yang dimuat buku Graffiti Imaji ini merupakan hasil guratan penulis yang berasal dari berbagai status, umur, jenis kelamin, dan minat yang berbeda-beda. Apakah arti dan dampak dari itu semua? Hal itu mengindikasikan bahwa takaran pengalaman penulis, wawasan estetik, cita rasa, visi dan misinya tentulah beragam. Semua itu membawa dampak bahwa “kata-kata yang mereka mainkan” membuahkan karya yang juga beragam ditinjau dari berbagai perspektif, misalnya dari perspektif literer dan non-literer.
Dari perspektif nilai literer, ada 10 cerita yang merebut perhatian pembaca karena sajiannya yang menarik, yakni (1) “Staatsgevaarlijk” (Agus Safari), (2) “Sketsa Rumah-rumah di Pinggir Jalan Tol” (Kurnia JR), (3) “Wuperainma Mencari Telaga” (Debra H. Yatim), (4) “Lebaran Ini Lebaran Ketiga” (Kuswinarto), (5) “Kupu-kupu di Batu Nisan’ (M. Arman AZ), (6) “Seorang Gadis Berdoa di Pinggir Kali” (Mohd. Thabrani MR), (7) “Keranda” (Muhary Wahyu Nurba), (8) “Hujan Sore Hari” (Nanang Suryadi), (9) “Kabut” (S.Yoga), dan (10) “Kan Kucari Tulang Rusukku” (Zulkifli). Cerita selebihnya yang mengungkapkan berbagai persoalan, baik persoalan serius atau sekadar iseng secara teknis sastrawi kiranya belum memenuhi apa yang biasa disebut “bahasa yang berdarah-darah”. Namun, terlepas dari nilai literer atau non-literer, kehadiran cerita dalam buku ini secara semiotik telah menyediakan penandaan, yakni sebagai grafiti.
Secara semiotik, sebuah grafiti sastra yang realisasinya dapat berupa pahatan, lipatan, atau curahan perasaan harus diberi makna. Dari berbagai segi pemaknaan yang dapat dibuahkan dari membaca Graffiti Imaji ialah bahwa setiap penulisnya berusaha eksis dengan kejujurannya, keorisinilannya, dan keberaniannya. Para penulis cerita, lewat multimedia telah berusaha menyebarluaskan benda budaya yang dibentuk dari perihnya perasaan, luka, trauma, atau sekadar keinginan ber-intermezo melalui sketsa, anekdot, karikatur, dan sebagainya. Sebagai media, cibernet dengan e-mail dan fasilitas lainnya sebenarnya memberikan ruang gerak dan keleluasaan bagi kreator untuk mengekspresikan visi dan misinya masing-masing. Hal yang urgen dipahami oleh para penggiat dunia maya ini ialah sebentuk penyadaran bahwa apa pun media ekspresinya, sebuah karya sastra mensyaratkan keseriusan dalam penggarapan, pengolahan, dan penataan kata-kata.
Sebuah “benda budaya” sebagaimana dinyatakan oleh Sapardi Djoko Damono dkk. itu pada gilirannya akan dapat memberikan “sentuhan kebijaksanaan”, memiliki peran positif bagi perkembangan sastra, dan dunia pendidikan Indonesia apabila telah melewati proses panjang. Artinya, para kreator yang karyanya dimuat dalam sebuah buku kiranya tidak berhenti menikmati kepuasan karena telah diterbitkan. Namun, lebih jauh lagi kiranya para kreator tidak berhenti dari upaya mencari, mencari, dan mencari upaya pengekspresian gagasan yang lebih tepat, lebih akurat, dan lebih bermartabat. Yakinlah, bahwa sastrawan atau penulis yang telah “menjadi” pada hakikatnya melalui serangkaian proses panjang yang “berdarah-darah”!
---------------------
* Sudaryono adalah penyair, doktor, dan dosen FKIP Universitas Jambi. Juga punya nama samaran: Dimas Arika Miharja.
Isi komentar tanggung jawab pengirim. CYBERSASTRA.net tidak bertanggung jawab atas isi komentar.
[Kembali ke Atas]
Hak Cipta © 2000-2002 | Dikelola oleh Yayasan Multimedia Sastra
Perancang Kulit dan Perwajahan: PINUSWEB
[Site Engine by PHP-Nuke]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar