Selasa, 17 Mei 2016

Islam Katanya


Penulis : Muqoddas Rofi'i

Banyak masyarakat di  indonesia sekarangsering mempesoalkan agama daripada masalah sosial. Padahal manusia di ciptakan di bumi ini baik laki-laki dan perempuan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya saling mengenalbukanmempersoalkanberagama.
Allah berfirman  tentang hakikat manusia di dalam masyarakat dalam surat al-hujurat ayat 13 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.
Artinya :hai manusia kami mencitakan kaliannya semua laki-lakidan perempuan danmenjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya untuksaling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kalian.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.
Ketikamemahamiayat di atas sebagaima nusiaharus mementingkan masalah social masyarakat daripada mempersoalkan masalah keberagamaan manusia sebelum mengenal orang itu. Dan Allah swt menegaskan orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa dengan kata lain orang yang mementingkan masalah social masyarakat derajatnya paling mulia di sisi Allah swt.
Sebelum pembahasan lebih jauh, perlu kita pahami dahulu apa itu agama (dalam bahasa Inggris di sebut religion, dan dalam bahasa Arab disebut al-dien). Agama secara bahasa berasal dari bahasa Sansekerta yang masuk kebendaharaan bahasa melayu (Nusantara). Ada perbedaan pendapat mengenai arti kata ini, satu sisi mengatakan agama terdiri dari kata a berarti tidak dan gama berarti kacau atau kocar-kacir. Jadi, agama berarti tidak kacau, tidak kocar-kacir, atau terarur. Sedang dilain sisi mengatakan definisi tersebut tidaklah ilmiah. Menurutnya (yang berpendapat lebih ilmiah) agama berasal dari kata gam yang mendapatkan awalan dan akhiran a, sehingga menjadi agama. Kata dasar gam tersebut memiliki arti yang sama dengan kata ga atau gaan dalam bahasa Belanda, atau kata go dalam bahasa Inggris, yang berarti pergi. Setelah mendapat awalan dan akhiran a artinya menjadi jalan. Yang dimaksud adalah jalan hidup atau jalan yang harus ditempuh manusia sepanjang hidupnya. Pengertian jalan ini ditemukan sebagai ciri-ciri hakiki dalam banyak agama. Taoisme dan Syinto berarti jalan; Budhisme menyebut undang-undang pokoknya dengan jalan; Yesus menyuruh pengikutnya untuk menurut jalannya; Thariqat, Syari’at, dan Shirath dalam ajaran islam juga bermakna jalan.
Dengan demikian pengertian secara etimologis kata agama yang mengandung arti yang bersifat mendasar yang dimiliki oleh setiap agama adalah jalan; jalan hidup; jalan yang mendatangkan kehidupan yang teratur, aman, tentran, dan sejahtera. Sedang secara terminologis agama adalah merupakan suatu kepercayaan.
Dalam istilah lain agama disebut juga dengan religi yang diserap dari bahasa Inggris religion. Kata religion itu sendiri berasal dari bahasa Latin, yang berasal dari kata relegere yang memiliki arti dasar berhati-hati, dan berpegang pada norma-norma atau aturan-aturan secara ketat; atau relegare yang berarti mengikat, maksudnya mengikat diri pada sesuatu yang ghaib yang suci. Dengan demikian religi pada dasarnya memiliki pengertian sebagai keyakinan akan adanya kekuatan yang ghaib yang suci, yang menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan manusia, yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti aturan-aturan serta norma-norma secara ketat, agar tidak menyimpang dari kehendak yang telah ditetapkan oleh kekuatan ghaib yang suci tersebut.
Selain itu ada juga yang menyebut agama dengan istilah al-dien. Kata al-dien berasal dari kata dasar daan  ( (دَانَyang berarti hutang; sesuatu yang harus dipenuhi atau ditunaikan. Sedang dalam bahasa Semit, kata al-dien (دِين) berarti undang-undang atau hukum. Dengan demikian arti kata daan dan al-dien menunjukan pengertian undang-undang atau hukum yang harus ditunaikan oleh manusia, dan mengabaikannya akan berarti hutang yang akan dituntut untuk ditunaikan, serta akan mendapat hukuman jika tidak ditunaikan.
Pengertian islam secara etimologi dari bahasa Arab : salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk atau patuh.Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-baqaroh ayat 12 :
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.
Artinya : (tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedangia membuat kebajikan, maka baginy apahala pada sisi tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.
Dari kata aslama itulah terbentuk kata islam. Pemeluknya disebut muslim. Orang yang memeluk islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaranya.

Selasa, 10 Mei 2016

Ajakan Beragama Secara Praksis

 Jumat, 6 Juni 2003
Ajakan Beragama Secara Praksis
 
Oleh : Abd Moqsith Ghazali*

Telah diakui bahwa setiap agama selalu menawarkan keselamatan dan menjanjikan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Namun, pengakuan yang bersifat normatif itu sering kali tidak didukung oleh kebenaran faktual dan bukti-bukti empiris. Sejarah agama-agama mutakhir justru menyuguhkan suatu realitas yang berbeda. Agama dengan tujuan adiluhung yang diusungnya kerap di tangan para penganutnya telah terperangkap pada sejumlah kegamangan di dalam menyelesaikan pelbagai masalah kemanusiaan.

Tengoklah, problem kemanusian yang terus merajam umat manusia dari tepi ke tepi kadang terbiarkan tanpa kehadiran tawaran solutif dari kaum agamawan. Problem-problem kemanusiaan yang bersifat lintas batas itu sering alpa dari cita keberagamaan kita. Sementara perbincangan dan orientasi keberagamaan yang berlangsung masih bertendensi pada model keberagamaan yang melangit. Agama telah dimaknakan sebagai institusi pelayanan terhadap Tuhan (teosentris) yang dijauhkan dari orientasi pelayanan terhadap manusia (antropo-sentris). Agenda utama dari pemaknaan dan pigmen keberagamaan seperti itu adalah memperbanyak jumlah rumah ibadah sembari merayakan ritualisme sebagai persembahan buat Tuhan semata.

Betapa gemuruh pengajian dan pengkajian lebih banyak berisi pembelaan terhadap Tuhan sebagai bukti kesetiaan hanya kepada-Nya dengan pengabaian yang nyaris sempurna terhadap pembelaan bagi kaum tertindas. Ruang perdebatan gaduh dengan upaya pembuktian kekuasaan dan kebesaran Tuhan. Inilah yang menjadi pertanyaan dan kegusaran sejumlah pemikir muslim progresif dalam membaca tren sejarah pemikiran keagamaan. Mengapa persoalan kemanusiaan cenderung sepi dari haru biru perbincangan teologis? Energi dikerahkan sedemikian rupa untuk membentengi singgasana Tuhan agar tidak terkotori oleh tangan-tangan manusia yang berdosa. Padahal, kebesaran Tuhan tidak akan surut sedikit pun dengan dosa-dosa yang diperbuat manusia.

Sikap menjunjung tinggi agama ke atas langit hanya akan menjauhkan agama dari realitas kemanusiaan dengan segala problematikanya. Sekarang, tiba saatnya bagi kita untuk mengonversikan teologi ketuhanan menjadi teologi kemanusiaan, sejenis teologi yang memberikan perhatian lebih besar terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Dengan bahasa yang berbeda, Hassan Hanafi dalam karya monumentalnya Min al-Aqidah ila al-Tsawrah menginstruksikan agar kita segera mengubah teologi langit menjadi teologi bumi. Bumi sebagai ruang hunian umat manusia harus selalu menjadi pijakan kita dalam beragama. Sebab, Allah bukan hanya raja di langit melainkan juga di bumi. Allah bukan hanya Tuhan para malaikat yang ada di sana, melainkan juga Tuhan umat manusia yang ada di sini, di bumi ini.
Orientasi praksis

Gagasan mengenai teologi bumi di atas akan lebih mengena sekiranya ditemalikan dengan --meminjam bahasa yang lazim dipakai seorang filsuf Jerman, Juergen Habermas-- 'praksis'. Beragama secara praksis berarti aktualisasi nilai-nilai inti agama ke dalam kenyataan konkret di masyarakat. Prinsip pembebasan, keadilan, dan persamaan derajat, merupakan deretan nilai-nilai etis-moral yang mendasari kelahiran agama-agama besar dunia.
Orientasi keberagamaan dan model pemahaman atas agama sudah semestinya digeser ke arah yang lebih praksis itu. Pemahaman dimaksud adalah pemahaman yang berbasiskan pembebasan dengan kelompok tertindas sebagai fokus perhatiannya. Paradigma ini meniscayakan agar kitab suci tidak diberlakukan sebagai kisi-kisi yang memadati sejumlah kurikulum sekolah dan proposal sebuah penelitian. Melainkan, disikapi sebagai teks yang akan memberikan sinaran etik-moral bagi kerja perubahan di masyarakat. Dengan demikian, agama bukan saja berisi ajaran suci mengenai matra ketuhanan dan pelbagai dimensi ukhrawiyah, melainkan juga berperan untuk menafsirkan realitas sosial secara kritis dan transformatif.

Secara perspektif Islam, terang kiranya bahwa Alquran datang tidak dengan semangat mengabsahkan realitas, tetapi untuk mengubahnya. Asghar Ali Engineer, pemikir muslim dari India, mengatakan bahwa Islam yang berlandaskan Alquran adalah sejenis Islam yang memiliki concern pada upaya-upaya penegakan keadilan sosial dengan aksentuasi utama untuk membebaskan kelompok-kelompok yang tertindas, baik di ranah politik, sosial, maupun ekonomi. Di mata Asghar Ali, Islam tidak hanya berupa karnaval ibadah personal yang mahdhah, namun juga berupa ekspresi ibadah sosial yang ghair mahdhah. Dalam tarikan napas yang sama, Farid Esack, aktivis muslim dari Afrika Selatan, dalam bukunya Qur`an, Liberation, and Pluralism menyatakan bahwa Islam datang untuk mereformasi struktur masyarakat Arab yang timpang, hegemonik, dan menindas.

Begitu juga dalam perspektif gerejawi. Setelah berefleksi dan menjelajah dalam kurun waktu amat panjang, sejumlah teolog Kristen progresif dari Amerika Latin tiba pada suatu keyakinan baru bahwa beragama atau berteologi bukan sekadar upaya perumusan iman belaka, melainkan merupakan praksis iman yang direfleksikan secara kritis dalam terang sabda Allah. Gustavo Gutierrez dalam A Theology of Liberation menyatakan, teologi adalah refleksi kritis atas praksis untuk transformasi dunia. Secara lebih konkret, teolog Katolik Indonesia, JB Banawiratma, telah menyusun sebuah buku yang bertitel 10 Agenda Pastoral Transformatif. Karya ini memuat agenda dan arah pastoral dalam konteks menjalani hidup menggereja yang berorientasi praksis.

Demikianlah. Maka, tentu saja beragama secara lebih praksis menuntut kesungguhan dan keseriusan, sehingga ideal-ideal agama yang bungkam dapat menjadi kenyataan yang hidup dan bersuara. Di sini agama bukan hanya bermuatan gugusan simbol-simbol ritus yang beku, melainkan konstruksi perihal kerja perubahan dan pembebasan masyarakat. Terutama mereka yang tertindas secara politik, sosial, budaya, apalagi ekonomi. Agama tidak boleh lagi berfungsi sebagai alat pemberi legitimasi pada struktur masyarakat yang tidak adil.

Akhirnya, beragama secara praksis bukanlah pekerjaan remeh-temeh. Ia memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dengan melipatgandakan kerja perubahan dalam terang sinar agama. Beragama secara praksis berarti pendaratan ruh agama pada 'pangkalan-pangkalan' masyarakat hingga level bawah. Pendaratan itu bukan saja mewujud dalam bentuknya yang trivial dan banal, melainkan juga terejawantah dalam bentuk yang lebih substantif berupa terlepasnya umat dari belenggu represi, hegemoni, serta derita ketertindasan. Agama seharusnya ditampilkan dalam sosoknya yang humanis, pluralis, progresif, dan transformatif. Dalam kisahnya yang awal, agama selalu hadir dengan makna-makna praksis tersebut.**

* Peserta Program Doktor Univeritas Islam Negeri Jakarta

(Media Indonesia, 6 Junin 2003)
 


 © Hak Cipta 2002, GusDur.Net 
 Kontak: redaksi@gusdur.net 

 

Adakah perdamaian di Irak?

Adakah perdamaian di Irak?
 
Oleh: Abdurrahman Wahid

Amerika Serikat (AS) telah menyerbu Irak dengan sekutu-sekutunya, melalui peralatan militer yang sangat canggih dan personel tentara yang tangguh dibantu oleh sistem komunikasi mutakhir. Dalam waktu tiga minggu, ibu kota Bagdad jatuh ke tangan pasukan A.S, dan patung Saddam Hussein setinggi belasan meter itu dirobohkan.

Anehnya, Saddam sendiri bersama keluarga dan menteri-menterinya tidak juga tertangkap. Hal ini sangat mengherankan, dan menimbulkan tanda tanya besar, apakah gerangan yang terjadi. Kalau tadinya diproyeksikan Saddam akan tertangkap dan ia digantikan oleh seorang pemimpin lewat pemilu demokratis, maka sampai tulisan ini dibuat hal itu belum terjadi.

Karenannya kita perkirakan hanya satu dari kedua proyeksi di atas akan terwujud, yaitu pengganti pemerintahan Saddam dengan pemerintah yang baru, itu pun belum tentu dapat diterima rakyat Irak. Pemerintahan yang baru itu akan melaksanakan pemilu dalam waktu dekat, guna mendirikan legitimasi bagi dirinya. Dan tanpa legitimasi itu, pemerintah yang didirikan, tidak akan menjadi peemerintahan yang kuat. Klaim Presiden Bush akan menjadi suatu yang kosong dan seluruh dunia akan bertanya mengapa Irak harus diserang?

Jawabannya adalah, A.S menyerbu Irak untuk kepentingan minyak bumi, alias hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan geopolitis: “Menciptakan (imbangan) bagi Saudi Arabia yang merupakan negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia (dengan cadangan 260 milyar barel minyak mentah (crude oil), yang sekarang saja sudah mulai menyimpang dari kebijakan luar negeri A.S dalam soal Israel.”

Dalam waktu sekitar tiga bulan atau 100 hari, jika A.S tidak berhasil menangkap Saddam Hussein maka rakyat A.S tentu akan menuntut pasukan-pasukan mereka ditarik dari Irak. Jika ini terjadi, maka di samping adanya pemerintah yang lemah (dan belum tentu demokratis), maka mau tidak mau perdamaian di Irak menjadi opsi yang harus di perhitungkan?

Di sinilah letak “kelalaian” dari serangan A.S atas Irak itu. Sebuah serangan yang tidak memperhitungkan kemungkinan Saddam tidak tertangkap tentulah membawa resiko tersendiri, jalan selanjutnya melalui perdamaian untuk menyelesaiakan konflik di Irak.

*****

Kemungkinan penyelesaian damai di Irak, apalagi kalau PBB diserahi tugas “mengamankan” negeri itu, haruslah memperhitungkan hal lain, yaitu perlunya menciptakan perdamaian abadi di kawasan Timur Tengah. Karena itulah, penulis mengusulkan perdamaian di Irak harus terkait langsung dengan perdamaian abadi antara Palestina dan Israel.

Dengan demikian, selanjutnya tidak ada “pengaruh-pengaruh negatif” perkembangan konflik antara Israel dan Palestina dengan perkembangan di Iraq. Kalau kita berpikir secara rasional dan obyektif, tentu akan sampai ke tingkat itu. Dalam hal ini, apa yang dilontarkan penulis itu bukanlah sesuatu yang utopis dan dalam angan-angan saja.

Untuk mencapai perdamaian abadi antara Palestina dan Israel harus ada negara Palestina yang kuat, terutama Industri dan perdagangannya. Hal itu hanya mungkin terjadi, kalau ada pemerintahan yang kuat dan tangguh dalam negara Palestina (state of Palestina). Jika Israel memiliki industri dan perdagangan yang tangguh, itu tidak lain pada masa permulaanya negeri itu mengenal sistim Kibutz (koperasi pertanian yang sangat tangguh), sebagai tandingannya negara Palestina harus mengembangkan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang tangguh guna melakukan pembangunan industri dan perdagangan yang tangguh pula.

Untuk hal tersebut, disamping pemerintahan yang moderat dan kuat, juga diperlukan bantuan ekonomi secara besar-besaran dalam bentuk kredit murah bagi negeri Palestina.

Israel dan Palestina yang kuat, merupakan persyaratan utama bagi perdamaian dunia kawasan Timur Tengah, sedangkan perdamaian seperti itu sangat tergantung kepada kemampuan dunia untuk menciptakan perdamaian abadi di Iraq. Inilah sebabnya mengapa penulis mengusulkan kaitan langsung antara perdamaian di Iraq dengan antara Israel-Palestina.

Sebagai orang luar yang memperhatikan perkembangan di kawasan TimurTengah -karena merupakan bagian dari dunia Islam yang digelutinya-, maka usul itu tentunya memiliki unsur kemungkinan gagal yang cukup besar tetapi ini tidak menghilangkan keharusan kita terus berupaya menciptakan perdamaian di manapun juga.

*****

Usul diatas penulis kemukakan dalam berbagai forum, antaranya pada ujung bulan Maret 2003, dalam sebuah konferensi penciptaan perdamaian di seluruh dunia di selenggarakan oleh IIFWP (Interreligius and International Federation For World Peace) di Wasington, DC. Begitu juga hal itu penulis kemukakan dalam rangkaian ceramah di Michigan University, Ann Arbor, pada akhir Maret 2003. Penulis lagi-lagi mengemukakan hal itu dalam seminar yang diselenggarakan Strategic Dialogue Centre Universitas Netanya, Israel di New York awal februari 2003 lalu, berjudul Mencari Kerangka Perdamaian di Timur Tengah.

Dalam seminar di New York itu, penulis juga mengemukakan pentingnya mengenal sebab-sebab terorisme yang dilakukan sebagian sangat kecil kaum muslimin, dengan atas nama agama mereka, seperti peledakan bom di Bali

Di antara sebab-sebab yang dikemukakan penulis adalah kelalaian sebagian kecil kalangan pemuda muslimin untuk membedakan antara institusi (lembaga) dan budaya (kultur) Islam. Jika ada yang melupakan budaya (kultur) itu, tentu ada ketakutan bahwa institusi (kelembagaan) ke-Islaman sedang diancam oleh peradaban barat dalam bentuk modernisasi. Dengan sendirinya, mereka merasa tantangan modernisasi dan ke barat-baratan sulit untuk dihadapi, maka mereka menggunakan segala macam cara (termasuk penggunaan kekerasan) dalam “mempertahankan” agama yang mereka cintai.

Dalam hal itu, mereka tidak memperhitungkan nyawa para korban yang berjatuhan. Yang terpenting “rasa puas” karena telah dapat membela agama. Sikap mental yang demikian ini tentu saja negatif dan perlu diganti dengang tindakan lain yang lebih positif. Tentu hal itu akan terjadi jika pemikiran yang ada diarahkan kepada penciptaan kondisi damai di manapun kaum muslimin berada, termasuk di kawasan Timur Tengah.

Kalau kita palingkan perhatian dari kawasan tersebut, maka akan tampak betapa besar keragaman cara hidup di kalangan kaum muslimin yang berbeda etnis, bahasa, agama dan budaya yang mereka miliki. Kalau kita sadari hal ini dengan mendalam, maka tampak nyata bagi kita bahwa ragam dan jenis kaum muslim pun sangat banyak jumlahnya. Kewajiban kita untuk melestarikan hal itu. Mudah dikatakan tetapi sulit dilaksanakan, bukan?

Denpasar, 14 April 2003
 
 © Hak Cipta 2002, GusDur.Net 
 Kontak: redaksi@gusdur.net 

 

Senin, 09 Mei 2016

Agama sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi

Agama sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi
 
Benny Susetyo, Pr

JUDUL tulisan ini saya kutip dari statement Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalimat tersebut, hemat saya, memiliki bobot, kualifikasi, konsekuensi dan interpretasi yang sangat jauh, dalam. Tidak sekadar kalimat yang meluncur begitu saja, tapi memiliki makna yang signifikan untuk merefleksikan kembali hakikat kehidupan beragama kita, yang semakin lama kita rasakan makin menurun kualitasnya. Dengan alasan, perjuangan politik, sosial, ekonomi, sudah mempersyaratkan kematian dan mengabsahkan pembunuhan massal apabila sudah berdogma agama.

Kita mulai dari tragedi pengeboman WTC dan pembalasan AS menghancurkan Afghanistan, perburuan Osama bin Laden, kemudian Tragedi Bali dan perburuan para pelakunya, wajib lapor WNI di AS, sampai pada peristiwa terakhir di Asia: konflik identitas antara Kamboja dan Thailand. Hampir semua bermuara, atau dimuarakan, kepada agama yang dituduh sebagai penyebab alias biang keladi berbagai peristiwa rusuh tersebut. Bagi perdamaian umat manusia, semua itu adalah masalah.

Secara definitif kita kenali bahwa masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Masalah sosial keagamaan terjadi karena ada yang tidak sesuai antara harapan yang telah ditorehkan dalam iman agama dengan kenyataan bagaimana agama tersebut berfungsi dalam masyarakat. Sangat jelas bahwa masalah tersebut terjadi akibat interpretasi monodimensional terhadap agama sebuah teks. Agama bukannya menjadi tuntunan untuk berperilaku baik dan menghormati manusia lain yang berbeda keimanan, malah dijadikan tuntunan untuk memaksa orang lain mengikuti kemauannya.

Jadi benarlah ucap Gus Dur itu, agama kerap dijadikan sebagai aspirasi, bukan inspirasi. Seperti halnya partai politik, aspirasi dalam agama kerap berbentuk suatu simbol-simbol, bendera-bendera, atau logo-logo. Itulah mesin penjebak manusia. Logo-logo itu dianggap sebagai kebenaran, bukan makna di balik logo itu. Logo sebagai sesuatu yang penting karena menyangkut identitas untuk membedakan sikap yang satu dan lainnya, memang benar. Akan tetapi logo menjadi tidak penting sama sekali bahkan bersifat merusak (destroy) apabila ia diletakkan sebagai kebenaran itu sendiri. Jadi bukan arti logo yang diutamakan, tapi bentuk fisik logo itu sendiri.


Karakter Keimanan
Sementara bila kita tengok perilaku keagamaan kita beberapa waktu terakhir dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia, semangat penyejukan dan perdamaian yang dibawa agama tampak kering. Hampir pasti bahwa semangat tersebut meleleh karena perilaku sosial politik selama 40-an tahun semenjak merdeka telah meracuni agama itu sendiri. Agama dikerangkeng di dalam aturan-aturan yang monolitik, monoton, dan tentu saja berdampak tidak sehat.

Aneh, perilaku orang beragama justru buas terhadap sesamanya. Norma kesopanan telah pudar dalam sanubari bangsa ini. Seolah-olah kita telah kehilangan jati diri sebagai orang beragama, sebagai bangsa beragama, sebagai makhluk beriman. Karakter keimanan sebagai suatu substansi yang harus diraih, gagal kita bangun. Keimanan bukan untuk menyayangi makhluk lainnya, tetapi justru untuk membunuh, dengan segala macam cara.

Adakah yang salah dalam cara kita beragama, berbangsa, berperikehidupan? Mengapa bangsa kita hidup dalam ketidakberadaban karena membiarkan kekerasan demi kekerasan terus berlangsung tanpa ada usaha yang kuat untuk menghentikan praktik kekerasan itu sendiri? Sebagai bangsa yang beragama, bukan atheis, mengapa orientasi kehidupan kita hanya mampu mencetak manusia yang kerdil, haus kekuasaan, harta dan kemuliaan belaka?

Sebetulnya kita sedih menyimpulkan statement ini. Tapi kita tidak bisa mengelak bahwa sampai sejauh ini dalam kehidupan kebangsaan kita, kita sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan keberagamaan kita telah gagal membangun sebuah karakter keimanan. Seolah-olah kesucian hanya dilihat di sekitar tempat ibadat, di luar itu orang boleh melakukan praktik yang berlawanan dengan keimanan.

Kita lihat dalam praktiknya, keberagamaan kita menampilkan wajah kontras antara kesucian individual dan kesalehan sosial. Kesucian individual ini tak kunjung berubah menjadi kesalehan sosial.
Realitas agama hanya terjebak pada dimensi kesalehan pribadi yang berorientasi pada kesucian perorangan. Ukurannya hanya sekadar persembahan belaka, tetapi tidak mampu memperbarui perilaku sosial. Hal ini terjadi karena agama tidak mampu keluar dari persoalan identitas (logo) seperti di atas. Pemeluk agama masih terjebak pada persoalan kuantitas keimanan, bukan pada kualitas keimanannya. Agama hanya dihayati sekadar ritual belaka, tetapi dirinya terasing terhadap realitas kehidupan kemasyarakatan.


Agama jauh dari realitas kehidupan kemasyarakatan. Dia cenderung memikirkan dirinya sendiri dalam lingkup dogma, aturan dan legalitas. Dia tak mampu melihat realitas masyarakat yang mengalami penindasan, pemerkosaan hak, dan penderitaan kaum tertindas yang termarginalisasikan oleh sistem pembangunan.

Agama gagal mempraktikkan iman yang memihak nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan. Mengapa agama bisa terasing dari realitas? Sebab hampir 40-an tahun agama dijadikan subordinasi politik Orba. Agama hanya dimengerti sebagai ritus belaka dan berorientasi pada dogma an sich. Dengan demikian pemeluknya pun sekadar beragama formal dan fanatis. Ini membuat pemeluk agama menjadi picik dan mudah dijadikan potensi konflik.

Selama ini tanpa sadar cara beragama kita masih sekadar menjalankan kewajiban persembahan saja, bukan pada penghargaan hak-hak manusia lainnya. Penghayatan yang ritualistik ini melahirkan nilai keimanan yang kurang
terwujud.

Karena itulah perubahan orientasi keagamaan seharusnya lebih difokuskan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Dialog kemanusiaan ini akan membantu umat beragama memiliki kesadaran religiusitas yang berkualitas. Kualitas religiusitas inilah yang membawa nilai-nilai kemanusiaan semakin adil dan beradab. Ukuran beradab adalah bila terwujud solidaritas sosial yang universal, tanpa pandang bulu agama, etnis dan suku. Ini terwujud bila umat beragama tidak terkurung dalam polemik yang hanya mempersoalkan perbedaan ajaran saja, melainkan, di sisi lain, umat beragama harus berani meninggalkan egoisme dengan cara membangun komitmen kemanusiaan.

Komitmen ini akan terwujud bila umat beragama jujur terhadap realitas dan jujur kepada Tuhan. Jujur terhadap realitas adalah bahwa umat beragama memiliki bela rasa terhadap penderitaan umat manusia yang beda keyakinan.
Dengan itu, maka umat beragama dipanggil untuk bela rasa terhadap korban, dalam bahasa yang sama yakni kemanusiaan. Lewat wujud bela rasa itulah umat beragama menjalankan agama yang berbelaskasih. Lewat tindakan yang tulus itulah dia sebenarnya jujur terhadap Tuhan.

Tuhan bukan butuh persembahan tetapi umat manusia yang bertindak adil bagi sesama. Tuhan akan muak dengan persembahan kita bila tangan kita penuh dengan darah, dan mulut kita penuh dengan pembualan dan dusta. Realitas itulah ditampilkan dalam wajah keagamaan saat ini akibatnya keagamaan yang seharusnya membebaskan manusia dari situasi keterasingan dalam realitas dirinya sendiri terasing.

Penulis adalah budayawan dan rohaniwan, tinggal di Malang.
Sumber SUARA PEMBARUAN DAILY
 

 © Hak Cipta 2002, GusDur.Net 
 Kontak: redaksi@gusdur.net 

Agama dan Militer

Agama dan Militer
 
Oleh: Josef P. Widyatmadja

JANGAN Anda marah kalau saya katakan bahwa agama dan militer merupakan dua sosok yang serupa tapi tidak sama. Dalam agama besar dunia, dikenal konsep pemimpin agama yang mengatasnamakan Allah Yang Maha-Kuasa dan menuntut ketaatan dari para pengikutnya. Sedangkan dalam militer, dikenal panglima tertinggi yang harus ditaati oleh setiap prajurit. Sumpah prajurit dan "sumpah agama" dijalankan pada anggota masing-masing.

Ketaatan mutlak diperlukan bagi peradjurit dan pengikut suatu agama. Semua perintah dan ajaran atasannya harus dijalankan. Disiplin agama dan militer bisa diberlakukan untuk para anggota yang dianggap bidat. Fatwa agama untuk menghukum pengikut agama sering dilakukan oleh dewan agama terhadap orang yang dianggap melawan kebenaran agama, seperti yang dialami oleh Galileo, Copernicus, dan Salman Rushdi. Rezim yang militeristik dapat pula melakukan hal yang sama terhadap mereka yang dianggap melawan keabsolutan kekuasaan militer.

Pihak militer akan memberangus orang atau kelompok yang dianggap pembangkang terhadap kekuasaan yang absolut. Para pengikut agama dan prajurit sering kali tidak diberi kesempatan berpikir, sehingga mereka tidak lagi terlatih untuk berpikir bebas dan berbeda dengan penguasa. Dalam agama, Allah punya pembantu para malaekat, dalam militer dikenal pula dengan kepala staf dan panglima daerah yang menjadi pembantu dari panglima tertinggi.

Agama dan militer sama-sama mempunyai power atau kekuasaan. Keduanya memiliki instrumen untuk menggunakan kekuassan masing-masing untuk menghukum anggotanya. Dan penggunaan kekuasaan yang absolut itu bisa menghasilkan kekuatan yang destruktif maupun positif. Di banyak negara, kebangkitan kelompok ekstrem agama membuat keprihatinan para penguasa.
Sebaliknya, kebangkitan militerisme juga membuat keprihatinan kelompok keagamaan dan kemanusiaan. Dalam praktik, ada kecenderungan kaum penguasa yang didukung militer mengagamakan militer dengan memakai simbol dan wacana agama (supranatural) dalam kehidupan negara. Peringatan "hari kesaktian Pancasila" untuk mengenang tragedi berdarah dan pengkhianatan atas Pancasila dipakai sebagai wacana dan upacara sakral untuk membenarkan tindakan dari rezim yang berkuasa.

Legitimasi Agama
Dalam peresmian kapal induk "Ronald Reagan" milik Amerika serikat dipakai motto "Peace through strength". Motto itu mengganti pengakuan bahwa damai bersumber pada Allah Yang Maha-Kasih. Bush memakai "crusade" untuk membenarkan serangan atas Irak sedangkan Saddam Hussein dan Bin Laden menyerukan "jihad" untuk melawan pendudukan Amerika Serikat.

Seringkali legitimasi agama dan doa dilakukan sebelum membunuh dan menghancurkan pihak lain. Beberapa konflik politik dan militer sering diagamakan. Allah sering diminta restu dan berkat-Nya sebelum suatu serangan dari satu negara kepada negara lain dilakukan.

Sebaliknya, persoalan agama sering mengundang campur tangan militer. Dalam era globalisasi beberapa kelompok agama telah melakukan tindakan militerisasi agama demi memenangkan pengaruh dan persaingan. Globalisasi bukan sekadar persaingan ekonomi seperti dipikirkan oleh banyak orang, tapi juga bisa membawa dampak persaingan agama dan militer.

Saat ini wajah agama tidak lagi menampakkan wajah yang penuh cinta kasih tapi telah berganti dengan wajah angker dan kejam. Ini tampak ketika para pemimpin agama yang mengatasnamakan "Allah" memanggul senjata, membentuk laskar yang mirip laskar militer, dan meneriakkan yel yel memuji Allah sebelum melakukan pembunuhan dan serangan terhadap pihak lain. Agama sering memakai militer untuk memperluas pengaruhnya; sebaliknya, kaum militer juga aktif memakai sarana agama untuk memperkokoh kekuasaannya.

Kelompok yang ingin bebas dari kediktatoran agama maupun militer sering menjadi korban dari nilai yang tidak demokratis dalam agama dan militer. Institusi agama dan militer bukan merupakan institusi yang demokratis. Tatanan agama dan militer akan menjadi amburadul kalau Allah bisa digugat dan panglima tinggi bisa dibantah atas nama demokrasi.

Agama dan militer sama-sama mengaku mempunyai panggilan untuk melindungi dan menyejahterakan masyarakat. Agama menjanjikan kehidupan surgawi, sedangkan militer menjanjikan stabilitas keamanan. Keduanya seringkali menanamkan sikap fanatisme di kalangan anggotanya: right or wrong is my religion/legion. Apabila fanatisme dijalankan dengan membabi buta, maka akibatnya akan menimbulkan malapetaka bagi orang yang mendambakan kebebasan.

Dalam era globalisasi, agama dan militer perlu lebih terbuka terhadap kritik-kritik dari pihak lain. Bukan sekadar harus hidup secara toleran terhadap pihak lain, tetapi juga harus bisa hidup dalam kedamaian dan keadilan dengan pihak lain.
Simpang Jalan

Menyongsong Pemilu 2004, agama dan militer di Indonesia ada di simpang jalan. Akankah agama dimiliterkan oleh para pengikutnya dalam rangka memenangkan kepentingannya? Sebaliknya, apakah militer akan mengagamakan institusinya sehingga militer bisa dianggap juru selamat untuk wewujudkan persatuan dan kemakmuran?

Penulis mengutip kata-kata almarhum Sudjatmoko bahwa ABRI terjun ke politik tidak atas kemauan sendiri tapi oleh konteks sejarah. Kalau almarhum benar, maka dalam era keterbukaan, TNI perlu memiliki panggilan sejarah untuk membebaskan dirinya dari keterlibatan politik yang tidak diinginkannya pada sejarah masa lalu.

Sebaliknya, tugas pemimpin agama dan politik dalam pemilu mendatang perlu untuk menghindari memperalat militer demi memenangkan kepentingan golongannya. Jika TB Simatupang menyitir bahwa peran ABRI sebagai dinamisator dan stabilitator dalam pembangunan, maka dalam menyongsong "era keterbukaan" pertanyaannya adalah mampukah TNI berperan untuk menjadi penegak demokrasi Ibu Pertiwi?

Makin kecil peranan TNI dalam kehidupan dan jabatan politik akan makin menunjukkan keberhasilan TNI dalam menjadi dinamisator dan penegak demokrasi. Itu yang seharusnya menjadi tekad TNI dalam memperingati hari jadi ke-58, dan bukan sebaliknya. Dirgahayu TNI!

Penulis adalah pemerhati etika dan masalah internasional.


 © Hak Cipta 2002, GusDur.Net 
 Kontak: redaksi@gusdur.net